BBCA Tumbang ke Level Terendah 2020, Investor Asing dan Domestik Kehilangan Harapan
Pasar saham Indonesia kembali mengalami tekanan setelah saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali anjlok. Tidak hanya investor asing yang mulai kehilangan…
Administrator

Pasar saham Indonesia kembali mengalami tekanan setelah saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali anjlok. Tidak hanya investor asing yang mulai kehilangan optimisme terhadap saham ini, tetapi juga para investor domestik yang tampaknya sudah memilih untuk melakukan cut loss atau menjual saham dengan harga rendah.
Pada Senin (8/6/2026), saham BBCA turun sebesar 4,43% menjadi Rp 4.850 per saham. Angka ini menunjukkan bahwa saham BCA telah mengalami penurunan sebesar 39,56% sejak awal tahun dan berada di level terendah sejak Mei 2020. Penurunan ini tidak hanya mencerminkan situasi pasar, tetapi juga memberikan dampak besar pada para pemegang saham yang sebelumnya memandang saham BBCA sebagai investasi jangka panjang.
Aksi jual dari investor asing juga semakin meningkat. Selama tahun ini, nilai jual bersih dari investor asing mencapai Rp 32,93 triliun. Bahkan, pada hari kemarin saja, investor asing menjual saham BBCA senilai Rp 489,11 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap kinerja BCA mulai merosot.
Kekhawatiran terhadap penurunan saham BBCA membuat banyak investor domestik merasa kecewa. Saat ini, saham BCA dikenal sebagai salah satu saham defensif yang biasanya menjadi pilihan utama dalam portofolio investasi. Namun, penurunan hampir 40% secara year to date (ytd) membuat harapan investor untuk mendapatkan keuntungan jangka panjang menjadi semakin sulit.
Beberapa investor mengungkapkan kekecewaan mereka melalui media sosial. Misalnya, Arief Muhammad, seorang influencer Instagram, menyampaikan rasa sedihnya terhadap penurunan saham BBCA. Ia bahkan mengunggah pesan yang mengundang empati, seperti "Baim Mecca summer holiday tahun ini kita camping ke Cianjur yaa. Banyak nanya papa kasih kalian ke satpam BCA."
Selain itu, akun @marvelie_danny juga mengeluhkan pengalaman serupa. Ia menyebutkan bahwa ia telah bekerja keras selama berjam-jam untuk menganalisis pasar dan memperhatikan saham-saham kesayangannya. Namun, semua usaha tersebut terasa sia-sia karena saham-saham yang ia percayai, termasuk BBCA, terus mengalami penurunan.
Penurunan saham BBCA juga membuat kerugian bagi para investor dalam lima tahun terakhir. Nilai kerugian mencapai 25,04%, yang berarti setiap investor yang memegang saham BCA selama periode tersebut harus menanggung kerugian sebesar seperempat dari modal awal mereka.
Meskipun demikian, beberapa analis masih menyarankan untuk membeli saham BBCA. Konsensus Bloomberg menunjukkan bahwa mayoritas analis masih merekomendasikan beli saham BCA. Target harga saham ini juga masih tinggi, yaitu sekitar Rp 8.826 per saham. Dari 37 analis yang mengkover saham BCA, 35 di antaranya merekomendasikan beli, sementara dua lainnya merekomendasikan hold.
Terbaru, Yap Swie Cu dari Yuanta Sekuritas menyarankan beli saham BBCA dengan target harga Rp 9.200 per saham. Meski angka ini lebih rendah dibandingkan target awal tahun sebesar Rp 10.500 per saham, namun tetap menunjukkan potensi pertumbuhan di masa depan.
Dalam konteks dividen, BBCA berencana membagikan dividen interim sebesar Rp 20 per saham. Namun, yield dividen saat ini hanya sebesar 0,41% pada harga terakhir Rp 4.850 per saham. Jika dihitung secara tahunan, yield dividen hanya sebesar 1,65%. Hal ini dinilai oleh Muhammad Wafi dari KISI Sekuritas sebagai tidak menarik untuk investor yang ingin mempertahankan sahamnya.
Secara keseluruhan, meskipun ada ketidakpastian di pasar, beberapa analis tetap optimis terhadap prospek saham BBCA. Mereka berharap bahwa penurunan harga saat ini akan segera berubah menjadi peluang investasi yang baik.
Penulis
Administrator
Kontributor di Solopena.com.
Berita Terkait
BreakingKekhawatiran Suku Bunga Picu Penurunan Wall Street
Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup melemah tajam pada penutupan perdagangan pekan lalu, Jumat (5/6), dipimpin oleh aksi jual besar-besaran…


